Friday, January 19, 2018

Nasehat Menulis Dari Toni Morrison

Sumber: © Josh Jones (10 Desember 2012)

Kadang terjadi seorang penulis favorit tidak menarik bila membicarakan pekerjaan. Tidak demikian halnya dengan Toni Morrison yang buka-bukaan. Kehadirannya di muka umum dan wawancaranya sering mengulang pengalaman membaca novel-novelnya—suaranya menarik Anda masuk, dan sebelum Anda sadari, Anda menjadi bagian dari dunianya yang telah dia berikan privilese untuk bergabung sebentar.

(Oleh: Angela Radulescu via Wikimedia Commons)


Ini adalah pengalaman membaca wawancaranya dengan Elissa Schappell dalam Parts Review. Morrison bercakap-cakap mengenai banyak hal, mulai dari rutinitas dan riwayat pribadi, jati dirinya sebagai penulis dan wanita, hingga riwayat luas perbudakan dan kehidupan kulit hitam yang dia tulis. Terjalin di antara itu semua adalah tinjauan tentang seninya yang mungkin ya atau mungkin tidak berguna bagi para calon penulis, tapi akan membuat para pecinta Morrison membaca karyanya dengan sedikit berbeda. Beberapa tinjauannya adalah berikut:

Tulis ketika Anda dalam kondisi terbaik


Baginya, ini terdapat di pagi buta, jam-jam menjelang fajar, sebelum anak-anaknya bangun, karena dia bekerja penuh waktu dan merasa dirinya “tidak sangat cerdas atau sangat pintar atau sangat berdayacipta setelah matahari terbenam”. Morrison melukiskan ritual paginya begini:

Saya selalu menyiapkan dan membuat secangkir kopi selagi masih gelap—harus gelap—lalu saya minum kopi dan menyaksikan cahaya datang.

“Ada garis antara merevisi dan rewel”


Penting sekali seorang penulis tahu kapan dia “rewel”, karena kalau ada sesuatu yang tak bekerja, “itu perlu disingkirkan”, walaupun dalam menjawab apakah dirinya mengungkit karya yang telah terbit dan berandai-andai dirinya lebih rewel, Morrison berkata, “banyak. Semuanya.”

Penyunting yang bagus adalah “seperti pendeta atau psikiater”


Morrison bekerja sebagai penyunting di Random House selama 20 tahun sebelum menerbitkan novel pertamanya. Dia meninjau hubungan antara penulis dan penyunting dengan berkata bahwa mendapatkan penyunting yang salah sama dengan “Anda lebih baik sendiri”. Salah satu ciri penyunting yang bagus? Dia tidak “menyukai Anda atau karya Anda”, karenanya menyodorkan kritikan, bukan pujian.

Jangan menulis dengan memikirkan audiens, tulislah untuk karakter


Mengetahui bagaimana membaca karya Anda sendiri—dengan jarak kritis seorang pembaca yang baik—menjadikan Anda “penulis dan penyunting yang lebih baik”. Bagi Morrison, ini berarti menulis bukan dengan memikirkan audiens, tapi dengan meminta nasehat dari para karakter, untuk memberitahu Anda “apakah pembawaan hidup mereka otentik atau tidak”.

Kendalikan karakter-karakter Anda


Terlepas dari tuntutan klise dan terus ada untuk “menulis apa yang Anda tahu”, Morrison berusaha keras tidak mengambil ciri-ciri karakter dari orang-orang yang dikenalnya. Sebagaimana dia katakan: “membuat kehidupan kecil untuk diri sendiri dengan mengeruk-ngeruk kehidupan orang lain adalah sebuah persoalan besar, dan itu mengandung implikasi moral dan etis”. Soal menjaga kendali karakter-karakternya, Morrison berkata, “Tidak ada apa-apa di dalam pikiran mereka selain diri mereka sendiri dan mereka tidak tertarik pada apapun selain diri mereka sendiri. Jadi Anda tak bisa biarkan mereka menulis buku Anda.”

Plot layaknya melodi; itu tidak harus rumit


Morrison meringkas pendekatannya plotnya dalam Jazz dan The Bluest Eye dengan berkata, “Saya menaruh keseluruhan plot di halaman pertama.” Alih-alih mengkonstruksi plot berbelit-belit dengan twist tersembunyi, dia lebih suka memikirkan plot dalam bahasa musik sebagai “melodi”, di mana kepuasan terletak pada mengenalinya dan kemudian mendengar “gema dan nuansa dan peralihan dan peputaran” sekitar itu.

Gaya, layaknya jazz, melibatkan latihan dan pengekangan tiada akhir


Berbicara tentang Jazz, Morrison memberitahu bahwa dia selalu menganggap dirinya seperti musisi jazz, “seseorang yang berlatih dan berlatih dan berlatih demi bisa berkreasi dan menjadikan seninya terlihat enteng dan anggun.” Sebagian besar dari gaya “jazz”-nya, ungkapnya, adalah “latihan mengekang, menahan diri.”

Jadi diri sendiri, tapi sadar akan tradisi


Tentang keanekaragaman musisi dan penyanyi jazz Afrika-Amerika, Morrison berkata, “Saya ingin menulis seperti itu. Saya ingin menulis novel-novel yang tak salah lagi milik saya, tapi tetap cocok pertama dengan tradisi Afrika Amerika dan kedua dengan makhluk bernama sastra ini.”

Kebanyakan pembaca karya Morrison akan berargumen itulah persis yang telah dia lakukan sepanjang karirnya. Baca wawancara selengkapnya di sini dan pastikan kunjungi arsip lengkap wawancara Paris Review daring.

Josh Jones adalah kandidat doktor bahasa Inggris di Universitas Fordham dan salah satu pendiri dan mantan editor pelaksana Guernica / A Magazine of Arts and Politics.

Kenapa Perempuan Membaca Cerita Detektif

Sumber: Carolyn Wells, Why Women Read Detective Stories , True Detective Mysteries edisi September 1930 , hal. 18-19, 105-106 Saat saya dit...