Sumber: © Christian Godefroy (7 April 2015)
Dua tetangga tinggal di sebuah desa kecil Provence.
Masing-masing punya keluarga yang menyenangkan. Keduanya bekerja di ladang. Tapi salah satu dari mereka gelisah.

“Kalau aku mati, atau sakit, bagaimana nasib isteri dan anak-anakku?”
Pikiran ini naik perlahan-lahan, seperti seekor ulat pada buah.
Tetangga satu lagi pernah terpikir soal itu, tapi dia percaya pada bintang keberuntungannya. Ini membuat tetangga satu hidup tenteram, sementara yang lain tidak merasakan ketenangan sekejap pun, dan tidak pula kebahagiaan batin.
Sewaktu bekerja di ladang, dia menyaksikan burung-burung masuk ke sebuah semak, lalu keluar, beberapa kali berturut-turut.
Menghampirinya, dia melihat dua sarang berdampingan, dengan anak-anak burung di dalamnya, masih telanjang karena baru menetas.
Dia hampir tak lihat apa-apa selain paruh-paruh yang terbuka lebar.
Para induk datang dan pergi membawakan makanan untuk anak-anak mereka.
Nah, selagi dia mengamati kedatangan dan kepergian ini, seekor burung hering menyambar salah satu induk, yang menjerit pilu, dan membawanya dalam cakar.
“Kematian induk itu,” katanya, “adalah kematian anak-anak ini.” Lalu dia mulai berpikir bagaimana nasib keluarganya andai dia mati.
Keesokan hari dia mendatangi semak.
“Anak-anak induk malang itu mungkin sudah mati,” katanya.
Tidak sama sekali. Mereka memancarkan kesehatan.
Dia bersembunyi untuk meninjau apa yang terjadi. Induk sarang kedua datang membagikan makanan ke dua sarang tersebut. Dia memberi kepada anak-anak piatu itu sebanyak kepada anaknya sendiri.
Malamnya dia ceritakan kisah ini kepada tetangganya.
“Mari kita hidup tenang,” katanya. “Mari ubah apa yang dapat kita ubah, dan mari terima apa yang tidak dapat kita ubah. Jika aku mati lebih dulu, kau akan menjadi ayah bagi anak-anakku. Jika kau mati lebih dulu, aku akan menjadi ayah bagi anak-anakmu.”