Sumber: © Maya Ananda, Legenda Jawadwipa, Jakarta: CV Jembatan Mas, Cet. 2, 2001, hal. 87-92.
Banyak pendapat tentang asal-usul nama Bogor. Ada orang yang mengatakan bahwa kata bogor berasal dari pengucapan lidah orang Sunda dalam mengucapkan kata buitenzorg. Dugaan itu rasanya tidak tepat karena perbedaannya terlalu jauh menyimpang. Kata bogor dengan buitenzorg tidak ada kemiripan bunyi sama sekali. Ada pula pendapat lain yang mengatakan nama bogor berasal dari kata baghar atau baqar (bahasa Arab) yang artinya “sapi”. Alasannya karena di Kebun Raya Bogor terdapat sebuah patung sapi. Itu mungkin didasarkan pada pengaruh kebudayaan Arab di daerah Pekojan yang sebagian besar orang Sunda pada waktu itu sudah beragama Islam. Pendapat ini diragukan karena belum pernah ada orang Sunda yang menggantikan kata ba dengan bo, terutama dalam melafalkan tulisan Arab. Lagipula dalam bahasa Arab tidak dikenal huruf hidup o.
Menurut kenyataannya, nama bogor sudah ada sebelum Kebun Raya dibangun, sedang arca sapi yang terdapat di Kebun Raya sebenarnya berasal dari sebuah kolam kuno Kotabaru yang dipindahkan ke Kebun Raya oleh Dr. Frideriech pada pertengahan abad 19.
Jadi dengan demikian kedua pendapat yang terdahulu itu dianggap tidak tepat. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa nama bogor berasal dari kata bokor yaitu sejenis mangkuk yang permukaannya cekung. Mangkuk ini lazimnya terbuat dari logam. Tidak ada penjelasan mengapa kata bokor itu dianggap sebagai asal nama kota Bogor. Akan tetapi, menurut pendapat ahli, kedua kata itu memiliki kemiripan pada k dan g. Dalam bahasa Sunda perubahan bunyi k ke g memang sering terjadi dan tanpa mengubah arti kata. Misalnya kata angkeuhan sering diucapkan anggeuhan dengan arti yang tetap sama, yaitu “kemegahan”. Namun ada pula pihak yang membantah kebenaran dugaan itu. Menurut mereka orang Sunda tidak pernah menyebut “bogor” untuk kata pengganti “bokor” yang setiap hari mereka pakai di rumahtangga.
Ada pula pendapat lain mengenai asal-usul nama Bogor. Menurut mereka nama Bogor memang aslinya sejak semula dari kata bogor. Menurut mereka kata bogor adalah sebutan untuk tunggul kawung (enau atau aren). Pendapat ini lebih masuk akal rasanya karena pada zaman dahulu orang lebih suka memanggil suatu tempat dengan nama fauna (binatang), flora (tumbuhan), atau keadaan. Di Jawa Barat banyak tempat bernama Bogor, misalnya di Sumedang, Garut, bahkan di Jawa Tengah ada pula kampung yang bernama bogor.
Di daerah Bekasi, kata bogor berarti “daging pohon kawung yang biasa dibuat untuk sagu”. Dalam bahasa Jawa, kata bogor berarti “pohon kawung”. Kata kerja dibogor berarti “disadap”. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata pabogoran berarti “kebun kawung”. Menurut Coolsman, kata bogor berarti “pohon enau yang sudah habis disadap”.
Pendapat terakhir ini tampaknya dapat dipakai sebagai asal-usul nama Bogor, baik sebagai ibukota kabupaten maupun sebagai ibukota kotamadya.
Menurut sebuah dokumen tertua bertanggal 7 April 1752, telah pernah ditempelkan suatu catatan tentang asal-mula nama Bogor. Dalam dokumen itu ditampilkan nama Ngbehi Raksacandra sebagai seorang kepala negeri Bogor. Pada waktu itu, ibukota Kabupaten Bogor masih di Tanah Baru. Baru kemudian Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diizinkan untuk mendirikan rumah tempat tinggalnya di Sukahati dekat Buitenzorg.
Lama kemudian, di depan rumah Bupati Bogor itu terdapat sebuah kolam besar (empang). Oleh karena itu nama Sukahati diganti menjadi “Empang”.
Penduduk Bogor umumnya berkeyakinan bahwa kota Bogor erat kaitannya dengan sejarah Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran. Mengenai ibukota Pakuan, banyak berkembang cerita dan pendapat terutama yang didasarkan pada naskah-naskah kuno seperti Carita Waruga Guru (1750).
Menurut naskah yang tertulis dengan huruf dan dalam bahasa Sunda Kuno, nama Pakuan Pajajaran muncul karena di tempat itu banyak sekali tumbuh pohon pakujajar. Jenis tumbuhan ini banyak terdapat di belakang Makam Embah Dalem.
Di Bandar Peuteuy dekat perbatasan kota, dahulu ada peninggalan pohon pakujajar yang garis tengah batangnya 40 cm. Kini pohon yang semula diduga berasal dari Kerajaan Pajajaran itu sudah tidak ada lagi. Selain pohon pakujajar, di Bandar Peuteuy ditemukan pula beberapa pohon yang seukuran dengan pohon pakujajar. Demikian juga di dekat Kampung Balay Kecamatan Ciampea. Untuk pohon tersebut, penduduk setempat memberikan nama yang tidak sama. Ada yang menyebutnya “suji domas”, ada pula yang menamakannya “suji badak”. Penduduk Desa Citoreh di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak menyebutnya “Ki Pahare”.
Dalam suatu tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg yang ditulis oleh K.F. Hole pada tahun 1869 diungkapkan bahwa di dekat kota Bogor terdapat sebuah kampung bernama Cipaku. Di situ banyak sekali ditemukan pohon paku haji. Oleh karena itu, penulis Hole beranggapan nama pakuan ada hubungannya dengan nama kampung, sungai, dan pohon itu. Pengamat ini juga berkesimpulan bahwa pakuan pajajaran berarti “pohon paku yang berjejer”.
Dalam sebuah buku Ensiklopedia Hindia Belanda karya G.P. Rouffaer tahun 1919 diungkapkan bahwa nama pakuan memang mengandung pengertian “paku”, tetapi harus diartikan sebagai paku jagat yang melambangkan pribadi raja seperti Paku Buwono dan Paku Alam di Yogyakarta dan Solo. Pakuan menurut Rouffaer berarti sama dengan maharaja, sedangkan pajajaran berarti “berdiri sejajar”. Jadi, kesimpulannya pakuan pajajaran berarti “maharaja yang berdiri sejajar dengan maharaja Majapahit”.
Mengenai berdirinya Pakuan Pajajaran, Hole berpendapat sama dengan Hoesein Djajadiningrat yaitu kerajaan tersebut didirikan pada 1433.
R. Ng. Poerbacaraka (1921) dalam tulisannya berjudul De Batoe Toelis bij Buitenzorg menjelaskan bahwa kata pakuan sebenarnya berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu pakwan yang berarti “kemah” atau “istana”. Jadi menurutnya, Pakuan Pajajaran adalah “istana yang sejajar”.
Selain pendapat ini, H. Ten Dam (1957), seorang insinyur pertanian, menulis dalam sebuah tulisannya yang berjudul Pengenalan Sekitar Pajajaran bahwa pengertian pakuan erat hubungannya dengan tonggak (lingga) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batu Tulis sebagai suatu pertanda kekuasaan. Menurut H. Ten Dam, dalam Carita Parahiyangan itu tokoh-tokoh seperti Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal dianggap masih tetap dalam pengertian “paku”. Menurut H. Ten Dam, kata pakuan bukanlah nama melainkan kata benda biasa yang berarti “ibukota”. Jadi haruslah dibedakan dengan kraton.
Kapitan Winkler (1690) dalam sebuah laporannya memaparkan kisah perjalanannya melintasi Istana Pakuan di Pajajaran. Dia mencatat bahwa pakuan itu terletak di antara Sungai Besar dan Sungai Tanggerang atau disebut juga Ciliwung dan Cisadane. Atas dasar itu H. Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama Pajajaran lahir atas dasar Sungai Ciliwung dan Cisadane yang mengalir sejajar sejauh beberapa kilometer. Jadi, menurut kesimpulannya Pakuan Pajajaran adalah “pakuan di Pajajaran atau Dayeuh Pajajaran”.
Bagaimana asal-usul Bogor, yang pasti sampai sekarang masih terus diadakan penelitian oleh para ahli.
Bogor yang semula hanya sebagai tempat peristirahatan kemudian tumbuh dan berkembang serta akhirnya terpilih menjadi tempat resmi gubernur jenderal Belanda dan sebagai pusat kegiatan ekonomi seperti perkebunan.